Sabtu, 22 Januari 2011

Hanifida Goes to Singapura & Johor Malaysia

Setelah hampir >800 even pelatihan Hanifida memberikan training di Indonesia dengan jumlah peserta >75.000 orang dari >20 propinsi >60 kota Hanifida dengan suguhan materi yang sangat berfariasi antara lain; Bedah Otak, Guru/Pribadi Idaman, Teknik Menghafal Cepat al-Asma al-Husna dan al-Qur’an, Motivasi, Kurikulum, Menghafal cepat Alfiyah dan pelajaran, seminar-seminar, dll.

Dalam setiap even pelatihan yang disajikan, Hanifida memperoleh apreisasi yang dari para peserta pelatihan. Ditambah lagi hasil yang diperoleh peserta setelah mengikuti pelatihan dijamin merasakan dan bisa dipraktekkan serta dikemabngkan.

Hanifida terus berkembang, maju ditengah kemajuan peradaban. Hanifida terus dikenal seluruh wilayah dan saatnya Hanifida akan Go International. Tanggal 28-29 Desember Hanifida beserta tim 13 orang memulai destiminasi internationalnya dengan membuka jaringan baru di Singapura tepatnya di Koleg Muhammadiyah Singapura.


Di Singapura Hanifida berkesempatan demonstrasi serta preview di depan pimpinan Koleg Muhammadiyah. Hanifida mendapat apresiasi yang luar biasa dari Bapak Teungku Fuad, pimpinan Koleg Muhammadiyah. Begitu pula Ustadz Syaifuddin sebagai ketua lembaga Bahasa Arab juka ikut memberikan apresiasi luar biasa atas temuan metode Hanifida sebagi metode baru untuk memudahkan umat islam menghafal alQur’an. Dan Insya Allah bulan Maret 2011 Hanifida akan diundang untuk memberikan training teknik menghafal cepat al-Asma al-Husna dan al-Qur’an kepada seluruh mahasiswa dan dosen Koleg Muhammadiyah Singapura.


Setelah Demonstrasi di Singapura, Hanifida melanjutkan perjalanan ke Johor Bahru. Di sana Hanifida berkesempatan Demonstrasi kepada pengurus keluarga muslimat Indonesia di Johor dan kepada pimpinan Konsultan RI di Johor Bahru. Mereka memberi apresiasi yang Luar biasa dahsyat terhadap temuan metode menghafal baru Abad 21 ini. dan dalam waktu dekat, Insya Allah Hanifida juga mendapat kesempatan syiar di Johor Bahru Malaysia.

Mahkamah Konstitusi (MK) Ikuti Bedah Otak

Allah berfirman “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Kata “keluarga” sering muncul didalam al-Qur’an beberapa kali. Keluarga digambarkan sebagai sesuatu yang sangat berharga yang harus di jaga, dirawat, dan dilindungi. Keluarga juga digambarkan sebagai tempat yang indah. Keluarga adalah lautan berlian yang paling abadi sampai akhir zaman. Keluarga adalah hiburan yang paling mudah, paling lama dan paling sering manusia menikmatinya. Oleh keluarga tidak heran bila semua orang sejak zaman adam sampai akhir zaman orang selalu menjaga, merawat dan melindungi keluarga.

Disisi lain keluarga bisa menjadi fital, masalah dan sumber masalah. Ia bisa menjadi penganggu perusak dan perusak kehidupan. Keluarga sering membuat orang susah dan gelisah. Semuanya bisa terjadi bila manusia tidak mampu menjaga, merawat, dan melindunginya.

Atas dasar perhitungan dan berpengaruhnya keluarga bagi kehidupan, Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai lembaga super body, lembaga terhormat, lembaga yang menjadi tumpuan masyarakat dibidang hukum lembaga dengan tingkat kesibukan, kepadatan, kepentingan, rutinitas tinggi. Diakhir tahun mengumpulkan seluruh pegawai beserta keluarganya dalam acara “Gathering Family” acara yang dikemas santai tapi serius, rekreasi tapi berisi dilaksanakn di Puncak Bogor tanggal 17 -18 Desember 2010. Sekitar 450 orang ikut larut dalam keharmonisan suasana rekreasi yang berisi itu.

Dalam acara itu Hanifida berkesempatan dan mendapat kehormatan untuk mengisi salah satu sesi di MK. Topik Bedah Otak, mreangsang, merawat dan meningkatkan kecerdasan menjadi ciri khas Hanifida dalam mencerdaskan bangsa.

Luar biasa dahsyat, sesi bedah otak yang dimulai pukul 19.30 wib diikuti dan dihadiri oleh mayoritas keluarga. Sekjen MK Bapak. J. Goffar berkesempatan membuka dan memberi pengarahan di akhir acara. Sambutan dan apresiasi dhasyat mencul setelah acara pada sesi ramah tamah. Bahkan dua minggu setelah acara ada keluarga MK yang melanjutkan belajar di La Raiba Hanifida Training Center. Untuk belajar lebih lanjut tentang bagaimana mengisi otak agar menjadi dahsyat.

Otak manusia memang dahsyat, dan hanya arus otak menusia menjadi berharga atau tidak berharga. Sekaya, secantik, seganteng, segagal, sekuat apapun manusia akan sangat berharga bila ia mampu mengoptimalkan otaknya.

Sukses buat MK & Hanifida.

Senin, 10 Januari 2011

KURIKULUM SMP-SMA AL-QUR'AN HANIFIDA

VISI:

1. SEBAGAI SALAH SATU SEKOLAH AL-QUR’AN PILIHAN MASYARAKAT ISLAM DUNIA


2. MELULUSKAN SISWA-SISWI YANG HAFAL AL-QUR’AN MODEL FILE KOMPUTER METODE HANIFIDA, FAHAM SECARA HOLISTIK, DAN BERPRESTASI AKADEMIK OPTIMAL 

MISI:
1. MENJADI SEKOLAH AL-QUR’AN PERCONTOHAN BAGI MASYARAKAT ISLAM DUNIA


2. MENGANTARKAN SISWA-SISWI HAFAL DAN FAHAM AL-QUR’AN  MODEL FILE KOMPUTER METODE HANIFIDA (SESUAI LEVEL)
3. MENCETAK GENERASI QUR'ANY YANG BEPRESTASI AKDEMIK OPTIMAL DAN BEAKHLAQ QUR'ANY

QUALITY ASSURANCE
= Hafal al-qur’an model file komputer metode HANIFIDA (sesuai level)
= Hafal dan faham kaidah nahwu dasar  METODE HANIFIDA (amstilaty)
= Sholat Dengan Kesadaran
# Berbakti Pada Orang Tua
#Prilaku Sosial Baik
#  Kemampuan Komunikasi Baik
#  Mampu menjadi guru teman sebaya (peer teaching)
#  Disiplin
#  Percaya Diri
#  Nilai 6 Bidang Studi Tuntas dengan prestasi optimal
#  Tartil Baca Al Quran
#  Memiliki Kemampuan Membaca Efektif & Senang Membaca

untuk melihat selangkapnya, bisa diklik disini

Selasa, 16 November 2010

HANIFIDA DI PT. FREEPORT INDONESIA


Subhanallah, alam jagad raya seisinya penuh dengan nikmat Allah yang banyak dan tak ternilai. Salah satunya adalah gugusan pegunungan Jayawijaya di Papua, terhampar dan berdiri kokoh menjadi paku bagi bumi sekitarnya. Sepintas gugusan gunung-gunung itu berdiri tanpa aturan dan tak tampak apa yang terkandung di dalamnya, karena pepohonan yang tumbuh adalah pepohonan dengan batang yang tidak terlalu besar (seperti pepohonan di hutan Kalimantan).

Batang pohon yang sedang ukurannya bahkan kecil tidak menampakkan kekokohannya. Di gugusan gunung-gunung itu juga tidak tampak tumbuhan buah-buahan, oleh karenanya hewan pemakan buah seperti monyet dan lain-lain, hampir-hampir tidak ada di gugusan gunung tersebut. Fenomena itu terjadi disebabkan tumbuhan dan pepohonan hutan itu tumbuh dan menancap di gunung yang penuh dengan bebatuan terjal yang sulit bagi pohon untuk menguarai makanan di bawah tanah (bukan di tanah yang subur) karena ia ternyata gunung terjal dan sangat tua. Ia tinggi menjulang ke angkasa. Karena ketuaannya itu gunung-gunung itu menyimpan muatan tambang yang luar biasa indah dan mahalnya. Ya, itulah tambang emas terbesar di dunia, tambang tembaga terbesar dan bahkan diketemukan pula tambang minyak di dalamnya.


Emas dan mutiara adalah harta yang paling mahal di dunia, harganya terus naik dan tidak pernah turun (bahkan tak akan pernah turun). Kemahalan harga emas itu memang wajar karena berbanding lurus dengan cara memperolehnya, dengan usaha manggalinya, dengan sistem dan kinerja untuk menambangnya, bahkan dengan perjuangan untuk mendapatkannya. Bayangkan, ia berada di puncak gunung yang dingin dan terjal. Ia sulit dijangau oleh manusia biasa, oleh teknologi yang biasa-biasa. Ia (emas) diambil dengan teknologi yang besar, ruwet, canggih, dan amat kokoh karena memang emas berada di tempat yang sangat jauh, tersembunyi di bawah lipatan-lipatan gugusan gunung-gunung. Sangking jauhnya ia tidak dapat diambil dengan jalan kaki, dengan tangan kosong, ia harus dengan kaki yang kokoh (super bulldozer) dengan tangan besi bahkan dengan baja. Pekerja disana bukan hanya pintar tapi juga harus kuat, kuat fisik dan kuat mental. Mereka harus “tirakat” emosi, mereka puasa dari kesenangan-kesenangan yang biasa ada di luar sana seperti wisata ke pantai, mall, dan lain-lain. Mereka juga harus puasa sahwat karena mereka bertemu dengan istri hanya 3 bulan, 6 bulan, bahkan setahun sekali. 


Harga mahal memang menjadi ciri khas untuk memperoleh harta yang mahal yaitu emas. Masih banyak lagi “ritual” yang harus dijalani para pekerja PT. Freeport Indonesia.
Syukur, MasyaAllah, Hanifida diundang dan hadir memberi pelatihan untuk para karyawan dan keluarga besar PT. Freeport Indonesia. Tak kurang dari 10 kali pertemuan dalam acara road show di Papua dengan lebih kurang 500 peserta pelatihan dan 500 peserta preview ikut dalam acara training Hanifida mulai tanggal 14-26 Oktober 2010.


Alhamdulillah, dahsyat! Apresiasi luar biasa ditunjukkan oleh panitia dan peserta. Mereka merasakan nikmat dan indahnya menghafal Asmaul Husna dan Al-Qur’an Metode Hanifida. Mereka menikmati forum Bedah Otak dalam usaha (mencetak) mencerdaskan anak bangsa. Dengan pelatihan bedah otak banyak orang tua yang merasa bersalah dalam memperlakukan anak-anak mereka selama ini dan mereka berjanji untuk merubah paradigma dalam mencerdaskan anak-anak mereka.
Hasil polling pendapat dari seluruh peserta hampir 99% mereka meminta Hanifida kembali ke Papua, khususnya di Timika, Kuala Kencana, dan Tembagapura. Oleh karenanya panitia menjadwalkan paling tidak ada lima kali pertemuan dan pelatihan di PT. Freeport dan sekitarnya. Semoga bermanfaat.

PSK PUN TERPESONA BELAJAR AL-ASMA AL-HUSNA METODE HANIFIDA

Sebuah gagasan yang brilian dan sangat perlu diberi apresiasi dan penghargaan kepada tiga orang wanita tangguh yang dengan tulus berjuang membantu, memberdayakan, dan mencoba mengentaskan para wanita Penjaja Seks Komersial (PSK) dari keterpurukan kehidupan mereka di dunia gelap. Tiga wanita itu adalah Bunda Eli, Bunda Ela, dan Bunda Evi yang mereka sebut Triple-E. Mereka bertigalah yang mengajak tim Hanifida untuk mengisi pelatihan Teknik Menghafal Asmaul Husna Metode Hanifida di Kompleks Lokalisasi Kilo 10 yang sangat terkenal di daerah Timika, Papua.

Acara pelatihan dilaksanakan bersamaan dengan acara road show tim Hanifida ke Papua yaitu Ke Kuala Kencana, Tembagapura, Kompleks PT. Freeport Indonesia, Timika, Yayasan Pendidikan Jayawijaya, TK/SDIT Al-Falah, SDIT As-Salam, dan Masjid Raya Babussalam, Timika mulai tanggal 14-26 Oktober 2010.


Luar biasa dahsyat! Pelatihan diikuti oleh lebih kurang 150 orang warga kompleks lokalisasi dan Alhamdulillah dalam waktu kurang lebih satu jam, mayoritas peserta sanggup dengan mudah menghafal 10 Asmaul Husna, lengkap dengan nomor dan artinya, baik mundur ataupun acak.
Dalam acara pelatihan tersebut tim Hanifida berpesan untuk terus dan sering membaca Asmaul Husna agar dapat segera keluar dari “pondok” gelap tersebut, dan semoga Allah segera memberi hidayah untuk mereka. Amin.


Terima kasih Bu Eli dan Bu Ela (yang mendampingi tim Trainer) dan ikut mendukung Pak Sunaryo beserta para suami dari Triple-E yaitu Pak Ebes (Pak Bambang suami Bu Eli), Pak Susilo suami Bu Ela, dan Pak Beni suami Bu Evi.


Terima Kasih, semoga amal dan jerih payah perjuangan ibu bapak diganjar dengan pahala yang berlimpah. Amin.

PARA PENDETA BELAJAR MENGHAFAL ASMAUL HUSNA METODE HANIFIDA

Semangat kebersamaan dalam menjalin persatuan berbangsa yang harmonis bisa tercapai dengan saling toleran antar umat beragama harus terus dikembangkan.
Adalah Prof. Pdt. Sutopo Ketua Satya Wacana, yang secara rutin tiap semester mengumpulkan para pendeta se-Jawa (bahkan se-Indonesia), lebih kurang 50 pendeta untuk berkumpul, berdiskusi, serta belajar bersama tentang Islamologi. Sejumlah pakar keislaman mulai dari Prof. Amin Abdullah, Prof. Komaruddin Hidayat, dan lain-lain ikut berpartisipasi memberi kuliah tanggal 23 Juli 2010.

Hanifida pada semester kedua dipercaya untuk ikut memberi kuliah tentang Teknik Menghafal Asmaul Husna dan Al-Qur’an Model File Komputer Metode Hanifida. Luar biasa dahsyat! Hanya dalam waktu lebih kurang 2 jam (waktu yang diberikan kepada Hanifida) para pendeta sanggup menghafal 20 Asmaul Husna lengkap dengan nomor urut dan artinya, baik maju, mundur, bahkan acak.


Apresiasi dan dukungan untuk terus berkarya dalam mencerdaskan umat lewat penghafalan dan pemaknaan al-Qur’an secara komprehensif diberikan. Demikian pula semangat saling menghormati dan saling menghargaai antar sesama umat beragama perlu terus dijalin dan diperkuat demi kejayaan bangsa, kemakmuran dan keadilan dunia. 

PARA PENDETA BELAJAR MENGHAFAL ASMAUL HUSNA METODE HANIFIDA