Sabtu, 24 Januari 2009

PENGANTAR TOKOH DAN PENTASHIH



1. Tashih Mudir Madrasatul Qur’an Pondok Pesantren Tebuireng

TAK ADA ALASAN, TIDAK HAFAL AL-ASMA AL-HUSNA


Bismillah

al-Asma al-Husna, nama-nama Allah yang sangat bagus adalah ujud kesediaan-Nya dipangil dengan nama yang mana saja. Begitulah, betapa Tuhan Maha baikan dan mengalah, sehingga tidak mau mempersulit hamba-Nya, meski sekedar dalam pemanggilan. Kebanyakan ulama’ memilih yang sejumlah 99, meski al-Thabatha’iy, mufassir Syi’ah memaparkan sejumlah 300 lebih.

Sangat penting umat Islam hafal nama-nama kebesaran yang Maha sakti ini. Anda cukup menyebutnya, maka Tuhan mesti hadir memperhatikan Anda. “Hei, you nyebut-nyebut nama Gue, mau minta apa ?, akan Gue kabulkan !” Bahkan Surgapun langsung dihadiahkan bagi siapa saja yang “Ahsha”, merefleksikan pesan nama-nama itu dalam perilaku sehari-hari, termasuk hafal.

Maka berlombalah para ilmuwan menyusun metode termudah menghafal nama-nama itu. Salah satunya adalah model konstruktivisme yang ditulis pasangan suami-istri, Mbak Ida dan Mas Hanif. Sebuah gagasan capaian lebih lengkap, tidak hanya nama-nama yang dihafal dengan mudah dan cepat bahkan arti dan nomor urut. Kami telah menyaksikan sendiri putra pasangan itu diuji berkali-kali : Asma Allah nomor sekian, apa bunyinya dan apa artinya”. Si kecil menjawab dengan tepat.

Huruf-huruf rumus yang sudah disusun dalam nyanyian sangatlah dasariah dan hebat. Dari rumus itu , 99 nama tersebut dipartisi secara tepat dan tersaving, Maka bila seseorang lupa asma yang nomor 77 misalnya, tidak perlu mengulang mundur jauh, cukup merujuk rumus huruf terdekat. Ternyata rumus itu tidak hanya untuk menghafal al-Asma al-Husna saja, melainkan sangat membantu menghafal kata-kata dalam kamus, vocab, mufradat, Amtsilah Tashrifiyah (Sharaf), bahkan ayat-ayat pendek yang sudah diprogram lebih dulu.

Tentang al-Asma al-Husna dengan pasak lokasi, dimana sifat Tuhan ar-Rahman digambarkan dengan secara ilustratif, Pak Rahman berjiwa pengasih, dengan cara membelikan DOT putrinya” : DOT adalah rumus Angka 01 atau al-Ghofur yang digambarkan dengan cerita “Menteri Abdul Ghafur menerima Map berisi surat pengampunan”. Map adalah rumus angka yang menunjuk 34. Semua itu adalah sekedar cara, bagaimana mengisi memori otak dengan gambaran-gambaran monumental, sehingga mudah sekali meresap dan pesan asma tersebut seharusnya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ya meski tidak seluruhnya mengarah kesana.

Sekali lagi, itu sekedar cara. Maka janganlah penggambaran tersebut dilekatkan pada Dzat Allah, karena yang dibidik adalah ekspresi asma-Nya pada dataran perilaku manusia, bukan pada Dzat Allah dan asma-Nya

Mudah-mudahan bermanfaat.

MUDIR Madrasatul Qur'an

Pondok Pesantren Tebuireng



KH. Drs. Ahmad Musta'in Syafi'ie, M.Ag




Tashih Teknik Menghafal al-Qur’an Metode Hanifida

NIKMATNYA HAFAL SURAT-SURAT PENDEK

Bismillah

Tak ada pemeluk agama manapun yang hafal Kitab Sucinya seperti pemeluk Agama Islam. Kitab-kitab Samawi yang turun sebelum al-Qur’an hanya Nabi yang bersangkutan saja yang hafal, umatnya tidak. Lain dengan al-Qur’an al Karim yang senyum dan menyapa seluruh pemeluknya, sehingga tak hanya nabi Muhammad SAW saja yang hafal. Banyak anak-anak dibawah usia 10 tahun sudah dikaruniai hafal al-Qur’an 30 juz sempurna. Al Imam al syafi’I salah satu contohnya. Why?

Karena al-Qur’an satu-satunya kalam yang oleh Allah sengaja dirancang khusus untuk mudah dihafal. Tuhan sendiri, dengan gaya sumpahnya yang khas turun tangan menjaga keuTuhan kalamnya (al hijr: 9). Terhitung empat kali bersumpah mempermudah kalamnya untuk dihafal, (al Qamar: 17,22,32,40). Inilah fasilitas yang disediakan Tuhan bagi hambanya. Hanya mereka yang dirahmati secara khusus saja yang cerdas berminat.

Ternyata pernyataan Tuhan itu dibahasakan dengan metode jamak “Inna, nahnu, nazzalna, hafidhun dan yassarna”. Meski filologis Balaghah acap kali membidik faedah “ta’dhim” atas kebesaran Allah, li ‘adhamah sya’nih, tetapi penulis cenderung kefaedah “isytirak”, gabungan” yaitu kesan, bahwa Tuhan tidak monopoli menjaga kalamnya sendirian. Tuhan memberi kesempatan hambanya agar mau bergabung bersamanya menjaga kalam suci itu. Maka wajar Tuhan bertanya : “fa hal min muddakir?” ayo siapa diantara kalian yang mau ikutan menghafal?.

Ternyata Tuhan tidak merayu dengan sabda kosong, melainkan memberiikan janji istimewa dan penghargaan tinggi terhadap penghafal al-qur’an. Disabdakan, bahwa Hamil al-Qur’an diakui sebagai keluarganya sendiri. Wow, apa ada keluarga yang lebih elit, lebih terhormat dibanding menjadi keluarga Tuhan?. Iming-iming terendah adalah al-Qur’an pasti mengawal pembacanya disetiap even-evven akhirat. Kala dialam kubur, al-Qur’an hadir melindungi hingga dia bisa tidur nyenyak. Di padang mahsyar, al-Qur’an mengayomi. Kala melintasi jembatan, al-Qur’an membimbingnya hingga lolos menuju sorga. Ketika di sorga, a-Qur’an hadir menghibur nan membahagiakan.

Kini mas hanif dan mbsa ida pasangan ilmuwan suami istri ini dikaruniai Tuhan punya metode menghafal yang amat sempurna, mudah dan lekat. Sekali lagi, “lekat”, tak gampang hilang dan sempurna sampai nomor urut ayat pun terhafal lekat. Bahkan sekalian terjemahannya. Tidak saja hafal secara urutan ayat seperti lazimnya para penghafal al-Qur’an konvensional bahkan hafal dengan bacaan bolak-balik atau comotan. Seorang bocah 8 tahunan ditanya: “ayat nomor sekian surat ini apa bunyi nya dan gimana terjemahannya?”. Bocah kurus itu menjawab dengan tepat sambil bermain. Metode konstruktif ini telah menyebar ke berbagai daerah dan telah diakui para pakar. Buku teknik menghafal al Asma al Husna yang terbit sebelumnya adalah bukti yang tak terbantahkan. kini metode yang sama diterapkan pada kalam suci al-Qur’an, dengan mengambil juz 30 sebagai langkah awal.

Dalam buku ini teks ayat ditulis tersendiri sebagai upaya purifikasi atas kalam suci dan terjemahan disendirikan mendampingi. Lalu ada antaran metode, seperti rumus “Teri, Padi , Dot, Donat dan seterusnya”. Semua itu sekedar cara yang sama sekali tak apa-apa dan tidak berefek hukum apa-apa. Orang bijak tidak akan memasalahkan hal yang tak apa-apa menjadi apa-apa. Justru cara mempermudah kebajikan adalah kebajikan.

Karena menyangkut al-Qur’an maka sebagai hukum menyertai antara lain: Pembacaan ayat al-Qur’an terikat dengan hukum tajwid, maka tutor wajib memperhatikan bacaan secara bagus dan benar. Pengguna buku ini wajib bersikap hormat dan tidak menaruh ditempat yang tak layak meski tidak wajib bersuci lebih dahulu untuk membawanya.

Mas hanif dan mba ida telah mendaftarkan diri dan bergabung dengan Tuhan dalam kerja mempermudah dan menjaga firmannya. Buku teknik menghafal telah ada ditangan anda, maka tak ada alas an untuk bermalas-malas sekedar menghafal surat-surat pendek. Berdosa membiarkan anak dan keluarga jauh dari al-Qur’an. Betapa nikmat hafal surat-surat pendek. Dada menjadi lapang, pikiran menjadi bebas dan hati pun pres. Bacaan sholat bisa bervariasi sesuka hati, tidak lagi-lagi “qulya dan quhu”. Anda pasi sangat senang diakui sebagai keluarga Tuhan.


Tebuireng, Medio Juli 2006




MUDIR Madrasatul Qur'an

Pondok Pesantren Tebuireng

KH. Drs. Ahmad Musta'in Syafi'ie, M.Ag





2. Prof. Dr. KHM. ROEM ROWI, MA

(Guru Besar IAIN Surabaya)

Sunnah Hasanah Menuju Permasyarakatan Nilai-Nilai Al-Qur’an

Dan Peng-Al-Qur’anan Masyarakat

Al-Qur’an diturunkan agar selalu dibaca oleh orang yang masih hidup dan juga agar menjadi pelajaran dan peringantan bagi orang yang hidup. Baik fisiknya maupun otak dan pikirannya (Q.S. 36:70). Bagaimana metode membacanya? Al-Qur’an tidak memberiikan petunjuk tehnis tentang itu. Karenanya tehnis dan metode membaca yang efektif menjadi bagian dri fastabiqul khairat antara kita. Satu hal yang pasti bahwa Al-Qur’an hanya memerintahkan membacanya dengan tartil. (Q.S.73:3) dan Allah pun telah membacakannya dengan tartil (Q.S. 25:32). Serta menurunkannya pun dengan bertahap bahkan sampai + 22 tahun (Q.S. 17:107). Tartil secara populer dan salah kaprah hanya dimaknai sebagai membaca kebenaran bacaan, baik tajwid maupun fashahahnya serta perenungan dan penghayatan terhadap maknanya. Dan tentu itu tidak mungkin tercapai dalam bacaan yang cepat, Bahkan membaca itu sendiri dan apapun yang dibaca. Sebenarnya pastilah bermula dari proses penghimpunan huruf demi huruf, kata informasi dan respon terhadapnya. Namun ironi, agaknya dalam kontek ini bagian tersebut.

Dalam sejarah turunnya Al-Qur’an, setiap ayat yang turun akan langsung dilahap dalam hafalan generasi awal umat Al-Qur’an, termasuk oleh Nabi Muhammad SAW sendiri. Dan memang mereka dikenal sebagai bangsa yang dianugerahi Allah SWT daya hafal dan daya ingat yang kuat dan mengagumkan. Namun mereka tidak hanya berhenti pada tahap hafalan saja. Mereka hayati dan mereka jabarkan setiap ayat tersebut dalam kehidupan sehari-hari, sehingga hafalan pun semakin melekat. Al-Qur’an ditambah Al-Hadis menjadi satu-satunya sumber informasi dan panduan kehidupan mereka tak ubahnya seperti koran dan media televisi saat ini. Out putnya sungguh dahsyat, spektakuler dan mencengangkan. Karena sejarah dunia mencatat dengan dengan tinta emas bahwa hanya dalam kurun waktu + 80 tahun umat tersebut telah mampu menguasai dunia Timur dan Barat. Dan memang begitulah apa yang dijanjikan oleh Al-Qur’an sendiri.

Lihat (Q.S. 7:24, 55, 7:96, 2:38, 20:123-124, dlsb.) Masih ada faktor lain yang membuat mereka mudah menghafal, menghayati dan menjabarkannya, yaitu Al-Qur’an turun dengan bahasa mereka sendiri. Lain halnya dengan kita bangsa Indonesia yang non Arab dan tidak berbahasa Arab. Namun demikian, Al-Qur’an telah membimbing kita agar tidak mengenal sikap pesimis, (3:139, 12:87 dlsb), dan bahkan menjanjikan bahwa Allah SWT telah memberiikan kemudahan kepada siapapun, asal untuk mengambil pelajaran dan petunjuknya (54:17, 22, 32 dan 40).

Pesantren Al-Qur’an madrasah maupun lembaga yang berkonsentrasi dalam pendidikan tahfidh (menghafal) Al-Qur’an di bumi nusantara, kiranya alhamdulillah cukup menggembirakan. Namun secara umum baru pada tahap penghafalan secara harfiah, belum beranjak ke tingkat pemaknaan, pendalaman kandungan, pentadabburan dan penghayatan, juga tidak sampai menjangkau sejarah, pokok kandungan dan nomor urut surah maupun ayat, apalagi dengan menghafal bolak-balik dari atas ke bawah maupun dari bawah ke atas, yang konon dalam hal ini pada huffadh dari negar sahabat kita Iran sudah lama melakukannya.

Saya yakin bahwa “Metode Praktis Menghafal Cepat Abad 21” Model file Komputer karya Sdri Dra. Ida Hanif Mahmud, M.PdI dan Sdr Drs. Hanifudin Mahadun, M.Ag. ini adalah temuan baru yang sangat layak diapresiasi dan dimasyarakatkan di negeri kita tercita ini, dan sangat tepat untuk mengisi kekosongan yang sampai saat ini masih terjadi di dunia Tahfidh Al-Qur’an kita. Besar harapan dan optimis saya, bila metode ini telah memasyarakat maka akan memberiikan kontribusi yang sangat berarti dalam membunyikan Al-Qur’an dan sekaligus mengantarkan umat ini kepada era kejayaannya kembali sebagai yang telah dicapi oleh generasi awal pendahulu kita. Kalau ada yang perlu saya ingatkan kepada para pembaca hanyalah bahwa Cerita di atas Terjemah Ayat tersebut hanyalah kode dan rumus tertentu yang berfungsi sebagai salah satu jurus untuk menguatkan daya ingat, bukan pemaknaan dan bahkan nyaris tidak berkaitan dengan kandungan ayat. Semoga dan mudah-mudahan pula akan menjadi sunnah hasanah serta jariyah bagi kedua penemuannya Amin.


Surabaya, Jum’at 25 Syawal 1427 H

17 November 2006




H. M Roem Rowi

Direktur Lembaga Pendidikan Al-Qur'an Surabaya

Direktur Tarbiyah Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya





3. KH. Prof. Dr. Ahmad Zahro, MA

(Direktur Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya)

Naib Ra'is Majlis 'Ilmiy (Wk. Ketua Dewan Pakar)

Pengurus Pusat Jam'iyyatul Qurra' wal Huffadh

(Himpunan Para Pelantun dan Penghafal Al-Qur'an) seluruh Indonesia.



Bismillaahirrahmaanirrahim

Luar bisaa, bahkan amat ajaib! Itulah kalimat yang secara spontan terungkap ketika penulis buku ini menemui saya di masjid Nasional Al-Akbar Surabaya sambil menyodorkan kertas berisi kotak-kotak kosong 10 ke samping dan 5 ke bawah. Saya diminta mengisi angka semau saya sampai ke 50 kotak itu terisi penuh angka-angka secara acak. Kemudian kertas yang telah terisi angka sekenanya itu diberikan pada anak didik penulis yang kira-kira baru berumur 5-6 tahun untuk dicermati dan dihafalkan. Dalam waktu kurang dari 5 menit kertas itu diminta kembali dan diberikan saya, lalu anak tersebut disuruh menyebutkan ke 50 angka tadi secara urut. Saya dibikin terbengong ketika anak itu dengan amat lancar menyebut angka-angka acak tersebut secara benar. Lebih ajaib lagi ketika saya tanya baris ke 3 kolom 6 itu angka berapa? Anak itu dengan santainya menyebutkan secara benar. Pertanyaan sejenis saya ulang secara sekenanya, ternyata anak tersebut menebaknya tanpa salah. Luar bisaa, bahkan ajaib!

Uji coba berikutnya adalah hafalan ayat beserta nomor dan maknanya, nama surat beserta nomor urut dan maknanya, asma'ul husna secara acak beserta nomor dan maknanya, nadham alfiyah Ibnu Malik yang sering membuat sebagian santri "sinting" karena saking sulitnya menghafal. Semua uji coba itu berlangsung dengan amat mencengangkan. Sebagai orang yang pernah menghafalkan Al-Qur'an dan asma'ul husna, saya hanya terkagum-kagum menyaksikan keajaiban ini. ALLAHU AKBAR.

Dengan tetap memberiikan penghargaan setinggi-tingginya pada "temuan" ajaib ini, saya merasa perlu merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

1. Metode ini sangat layak diterapkan dan disebar luaskan sebagai salah satu metode alternatif belajar cepat.

2. Perlu ada observasi obyektif dan kontinyu dalam waktu yang cukup lama guna mencermati kemungkinan adanya temuan lain dari metode belajar "instan" ini.

3. Untuk menghafal Al-Qur'an 30 juz, perlu ada upaya sinergis antara metode ini dengan metode tahfidh Al-Qur'an yang selama ini mengandalkan "tempat" ayat dalam mush-haf khusus secara permanen.

Kepada suami-istri penulis buku ini saya ucapkan selamat atas "temuan" luar bisaa anda berdua, moga-moga menjadi jariyah sebagai "ilmun yuntafa'u bihi". Kritik dan masukan dari berbagai pihak jangan dianggap sebagai penghalang, melainkan harus disikapi secara positif demi menyempurnakan "temuan" ini dengan mengurangi sedapat mungkin aspek negatifnya. Selamat dan semoga bermanfaat. Aaamin...



Surabaya, 25 Januari 2007




KH. Prof. Dr. Ahmad Zahro, MA




4. KH. Ir. SALAHUDDIN WAHID

(Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jatim)


Saya menyambut baik terbitnya buku Tehnik Menghafal Kontemporer Al-Qur'an model file komputer, Tehnik Menghafal aL-Asma aL-Husna dan Tehnik Menghafal Alfiyyah Ibnu Malik karya sepasang ilmuwan Dra. Ida Hanif Mahmud, M.Pdi dan Drs. Hanifuddin Mahaddun, M.Ag terlebih mereka berasal dari lingkungan pondok pesantren Tebuireng, lembaga pendidikan tempat saya mengabdi sejak Juni 2006.

Sejauh saya tahu Al-Qur'an adalah satu-satunya kitab suci yang dihapalkan oleh banyak pengikutnya. Mungkin puluhan ribu jumlah hafidz Al-Qur'an yang saat ini ada di seluruh dunia. Hal ini menunjukkan besarnya kecintaan umat Islam terhadap kitab suci Al-Qur'an. Dan juga menjadi cara yang efektif dalam upaya mencegah pemalsuan dan kesalahan dalam menerbitkan atau mencetak Al-Qur'an.

Metode penghafalan yang diuraikan oleh kedua penulis di dalam buku ini jelas akan sangat membantu umat Islam dalam menghafalkan surat-surat Al-Qur'an, aL-Asma aL-Husna dan Alfiyah Ibnu Malik. Hal ini akan menjadi fadhilah bagi yang menghafalnya.

Dalam dialog, penulis buku menerangkan bahwa metode menghafal yang dipakai ini berasal dari penemuan ilmuan non-muslim di Amerika Serikat. Para ilmuwan non-muslim berhasil menemukan berbagai hal yang ada didalam alam maupun didalam tubuh kita. Artinya saat ini mereka lebih mampu dibanding ilmuwan muslim dalam mengkaji dan menafsirkan ayat-ayat kauniyah dibanding ilmuwan muslim. Berbeda dengan kita.

Ilmuwan muslim pada abad-abad awal hijriyah mampu mengkaji dan menafsirkan ayat-ayat kauniyah dan juga sekaligus ayat-ayat Al-Qur'an.

Penemuan ilmuwan non-muslim yang merupakan buku ketekunan dan keberhasilan mereka dalam mengkaji dan menafsirkan ayat-ayat kauniyah amat baik dan bermanfaat bagi umat manusia. Salah satunya ialah kemampuan menghasilkan penemuan dalam bidang teknologi informatika, yang dapat kita nikmati antara lain dalam bentuk komputer dan telepon seluler.

Kita tidak perlu mempertentangkan ilmu agama dan non agama. Ilmu Allah sungguh amat luas yang diturunkan kepada manusia melalui Al-Qur'an dan alam seisinya termasuk diri kita, baik fisik kita maupun jiwa dan perilaku kita dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Allah SWT. Memerintahkan kita untuk mengkaji ilmu Allah yang terbentang luas di hadapkan kita. Mempelajari ilmu apapun kalau diniatkan untuk memper-oleh ridho Allah akan menjadi amal sholeh.

Kita perlu mendorong upaya menghafal Al-Qur'an sekaligus juga mendorong untuk memahami maknanya dan menafsirkannya untuk kemajuan dan kesejahteraan umat manusia. Kita juga perlu mendorong mereka yang terdidik untuk mempelajari alam, manusia dan mewujudkan masyarakat yang ideal sesuai dengan perintah agama.

Kita paham kalau kita tertinggal dalam mempelajari alam semesta. Tetapi banyak dari kita tidak paham kalau kita juga gagal dalam mewujudkan masyarakat yang anggotanya saling percaya dan mengutamakan kejujuran. Semoga kita tidak hanya pandai menghapal dan mengumandangkan ayat-ayat Al-Qur'an tetapi juga pandai menerapkan ajarannya di alam kehidupan masyarakat.

Jombang, 14 Desember 2006




KH. IR. Salahuddin Wahid




5. KH. Imam Yahya Mahrus

Rektor Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Dan Pengasuh PP. Lirboyo Kediri


Kitab Alfiyah merupakan kitab andalan bagi yang mempelajari ilmu nahwu dan shorof, terutama sekali bagi santri-santri di kalangan pondok pesantren salafi. Alfiyah Ibnu Malik merupakan andalan dan kebanggaan bagi kitab tersebut.

Dengan adanya teknik menghafal kontemporer karya spektakuler model file komputer merupakan metode baru di dalam menghafal alfiyah. Oleh karena itu saya sangat menyambut baik atas karya tersebut dan bisa di gunakan kepada semua santri-santri yang menghafalkan metode ini. Metode ini merupakan langkah maju dalam menghafal. Insya Allah dengan metode ini akan lebih mudah dan lebih cepat untuk menghafal dan memahaminya.

Dengan kata lain metode ini metode modern di dalam mengkaji ilmu alat yang merupakan alat untuk membaca, mengarang, menyusun kitab-kitab yang di perlukan.

Semoga metode ini barokah, manfa'at bagi segenap pengguna. Amiin.

Rabu, 21 Februari 2007



(KH. Imam Yahya Mahrus)




6. Pengasuh PP. Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang Jombang

Hafalan adalah merupakan pondasi keberhasilan belajar, sehingga di negeri-negeri arab seperti al azhar di mesir, dan tempat-tempat lain syarat belajar adalah hafal sehingga mereka harus sanggup tiap akan menambah pelajaran untuk menunjukkan hafalan pelajaran yang di terima kemarin, dan waktu dulu, orang akan masuk al azhar syarat utamanya hafal ayat al ahkam ratusan ayat, begitu pula hadits. Di Iraq, Iran, Arab Saudi tingkat Ibtida' pelajaran tiap-tiap hari dua belas pelajaran dan untuk lulus harus hafal pelajaran-pelajaran tersebut. Di pondok pesantren di Indonesia sejak dulu para santri harus menghafalkan pelajaran, apalagi pelajaran yang mengandung qo'idah-qo'idah, sehingga untuk memudahkan itu para Ulama' mengarang kitab-kitab Nadzom, walaupun sudah banyak kitab yang berupa nadzom, namun hafalan masih menjadi momok bagi mereka, sehingga banyak santri yang putus asa gara-gara hafalan, namun walau bagaimana karena hafalan merupakan soko guru, tiap-tiap mereka berusaha mati-matiandan alhamdulillah saat hafalan hampir punah terbitlah buku teknik menghafal Alfiyyah dan Imrithi yang merupakan pelajaran pokok di pondok pesantren yang di tulis oleh Dra. Ida Hanif Mahmud, M.Pdi dan Drs Hanifudin Mahadun, M.Ag dengan judul “Teknik Menghafal Spektakuler Alfiyah Ibnu Malik Metode Hanifida Model File Komputer”.

Semoga buku tersebut dapat menggugah himmah para pelajar untuk hafal dan merupakan petunjuk cara menghafal dengan cepat dan awet, Amiin. Sekian.

المستقيم. لصراط ا إهدنا

Khodim Ma'had Tarbiyatunnasyiin

Paculgowang Jombang




KHM. Abdul Aziz Manshur


7. Dekan Fakultas Tarbiyah IKAHA Tebuireng

Buku ini merupakan upaya-upaya awal untuk langsung mengaplikasikan teori CTL (Contextual Teaching and Learning) dalam pembelajaran al-Qur’an. Oleh karenanya, pendekatan semacam ini sangat tepat digunakan dalam pelatihan-pelatihan singkat yang tidak banyak bicara tentang teori. Dan karena dilengkapi dengan media suara yang dapat di dengar, gerak diri yang bisa di hayati satu arti kata yang perlu dipahami, maka dalam proses pembelajarannya buku ini menjadi kaya makna.

Kedepan diharapkan model pembelajaran demikian benar-benar dapat memadukan antara pengembangan otak kiri yang berpotensi analitik dengan kemampuan otak kanan yang berpotensi sintetik secara alamiah manusiawi. Dan melalui keterpaduan inilah, atau yang analitik sudah pasti dengan yang sintetik multi maka, potensi-potensi diri sepenuhnya. Sehingga baik dari sisi produktivitas penemuan solusi permasalahan yang dihadapi ataupun dari sisi reproduksi. Hafalan sebagai tujuan pembelajaran, prosesnya bisa berlangsung selambat dan secepat cahaya. Itulah kira-kira hakikat teori MI (Multiple Intelligence) Quantum, Accelerated Learning, dan atau entertain education yang menjadi ciri pembelajaran abad 21 ini. Sekali lagi semoga buku ini dapat mewakili harapan-harapan demikian.


Tebuireng, 11 November 2006



Drs. Darojat Kadarisman, M.Ag




Tidak ada komentar:

Posting Komentar